Mungkin tiada hari yang harus diakui dengan terbitan bulan yang selalu membutuhkan sinar mentari untuk menyinarinya. Selalu saja keputusan yang selalu menjauhkan semuanya dengan apa saja yang telah menyatukan apa yang telah ada. Aku tidak perlu berbicara pada buih - buih laut yang ada untuk menghilang. Aku lebih memilih kayu yang berdiri dengan balutan kulit yang lekang oleh waktu, tapi tetap berdiri dengan indahnya, karena aku takut untuk tersakiti lagi...
Saat aku harus menyayangi, aku akan belajar untuk selalu membuatnya bahagia, tapi pohon-pohon yang menjatuhkan daun-daun yang berserakan di tanah berusaha menahan terpaan angin dalam kehidupan dunia yang harusnya dimengerti. Aku tidak ingin mengharapkan apapun atas semua yang telah berjalan atau apapun yang telah aku lakukan untuknya, walaupun hanya untuk mengdengarkanku, aku mengerti setiap detik hidup menuangkan air masalahnya dalam telaga umur, jadi aku akan terus belajar untuk mengerti dan berusaha semampuku untuk menyelesaikannya sendiri.
Setiap keadaan yang tercipta menyampaikan diri ini pada titik keheningan yang terkadang menghanyutkan semua yang telah tercipta, aku akan menyanjungkan setiap kecerian yang bisa terungkap dan menutup semua air mata yang harusnya dijatuhkan, bukan mengartikannya sebagai kelemahan yang bertaut pada kesendirian. Aku harus berlari saat ini dengan apa yang ada. Aku takut aku akan menyakiti apa yang telah tersirat di hati, aku hanya ingin menghindar dan tidak ingin menyakiti siapapun termasuk diri ini, aq lemah, tolong dimengerti...
Mungkin jarak yang harus dibuat sehingga aku bisa tenang dan tidak melihat atau memikirkannya apapun masalahnya. Aku hanya ingin ketenangan dalam kesendirianku, biarkan aku bertanya lagi pada diriku dan berusaha berdiri kembali, sehingga semuanya menjadi jelas. Aku akan menghilang untuk mengejar mimpiku, Inshallah suatu saat yang telah Allah aturkan untukku, sehingga aku bisa menghilangkan semua titik-titik ketiadaan yang menggabungkan setiap pecahan-pecahan kaca hidupku. Untuk lebih bercermin, sehingga aku bisa untuk bertahan dan tidak terjatuh dan terpuruk.
Menulis, itu yang menjadi pelarianku, sehingga setiap tinta yang menetes seiring dengan kekeluan yang tersimpan dan terhanyutkan oleh kata, sehingga aku melapangkan semua taman-taman hatiku dengan keindahan jemari dunia yang tersejukkan dengan musim yang berputar. Aku bukan takut, aku hanya tidak ingin membuat semua impian menjadi hanya angan-angan belaka. Jadi lebih baik aku diam sekarang, sehingga semuanya bisa diputuskan. Aku akan melihat dan bisa mengambil sikapku. Aku hanya seorang wanita yang sedang belajar di dunia yang menderetkan hari-harinya untuk dijadikan berguna, Inshallah...
Ya Allah berilah petunjuk dan rahmat-Mu selalu atas hamba, Amin...








0 comments:
Post a Comment