Thursday, 27 February 2014

Antara Sabar dan Mengeluh

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji ke Baitul Haram. Di waktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.

"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu, tidak lain karena itu pasti karena tidak pernah risau dan bersedih hati." Tiba-tiba wanita itu mendengar ucaan Abul Hassan lalu bertanya, " Apakah katamu hai saudaraku? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaaan dukacita dan luka hati karena risau dan seorang pun yang menyekutui aku dalam hal ini."

Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu?" Wanita itu menjawab, "Aku mempunyai dua orang anak yang sudah bisa bermain dan satu masih menyusui. Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing qurban dan ketika aq bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakahaku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing? jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu!" Lalu disuruh adiknya berbaring dan disembelihnya leher adiknya itu, kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah yang memancur keluar dan lari ke bukit yang mana di sana dia dimakan serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju periuk yang berisi air panas, ditariknya  periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya dan habis melecur kulit badannya. Berita uni terdengar oleh anakku yang telah menikah dan tinggal di daerah lain, maka ia terjatuh dan pingsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara diatara mereka semua."

Lalu Abul Hassan bertanya lagi, "agaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu?" Wanita itu menjawab, "Tiada seroang pun yang mendapatkan perbedaan anatara sabar dan mengeluh melainkan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapatkan ganti yakni hanya sia-sia belaka.

Maksud di sini adalah dengan kesabaran, semua hal yang tertinggal akan dicoba untuk diperbaiki, sehingga mndapatkan solusi untuk menjadikannya lebih baik, bukan hanya mengeluh, dengan akhir yaitu mendapatkan kekesalan belaka dan ingkar atas nikmat Allah... Na'udzubillah mindzalik...

Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh islam dan haruus dimiliki oleh setiap orangg yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap musibah dan cobaan dari Allah... Karena Rasulullah S.A.W bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi: " Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika aku ambil kekasihnya dari ahli dunia kemudian ia bersabar, melainkan syurga baginya."

Begitu juga mengeluh, perbuatan ini sangat dikutuk oleh Islam dan hukumnya haram. Karena Rasulullah S.A.W bersabda: "Ada tiga hal yang menjadi tanda kekafiran kepada Allah, menangis karena bersedih sampai merobek baju, MENGELUH dan menghina nasab orang lain." Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum bertaubat, maka Allah akan memotoingnya dengan pakaian dari uap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)

Semoga kita dijadikan sebagai hamba Allah yang sabar dalam menghadapi segala musibah dan cobaan, Amin...
Categories:

0 comments:

Post a Comment