Monday, 3 November 2014

Kenyamanan ini melelahkan, sobat..."

Ok Fine!! Kata itu sering terdengar saat kita berusaha untuk mengerti dan mencoba menerima apa yang orang lain lakukan, namun tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan... Banyak kata yang menggantikan sebenarnya dalam hati, saat semua ingin disampaikan tapi terasa sulit untuk dikeluarkan dengan kata-kata, karena hal yang ditakutkan adalah menyakiti. 

Persahabatan yang semakin banyak menyita fikiran dan hati, untuk bisa saling menjaga, saling tau apa yang diinginkan dan akhirnya membentuk kata "nyaman". Memang hal ini terkadang membutuhkan waktu, bukan sehari atau dua, tapi bisa mencapai tahunan. Saat semuanya sudah dimengerti, mungkin kata sudah jarang untuk harus dikeluarkan sebagai penjelasan. Kata hanya sebaris ajakan untuk jalan bersama, berkomunikasi lewat selular ataupun  chatting dengan social media. 

Persahabatan yang membentuk kata "nyaman", adakah semuanya harus dilalui untuk menjaga hati agar tetap mengokohkan dinding yang sama, yang tidak mungkin untuk dilewati, sulit untuk diperkirakan dan pada akhirnya lagi menciptakan ego tinggi dalam diri masing-masing yang merasa memilikinya. Dua insan, laki-laki dan perempuan menguntai persahabatan dengan perbedaan watak, tingkah laku dan juga hati, dengan cara berfikir yang mendominankan keutuhan rasa "nyaman".

Pada satu titik dimana hati merasa memiliki, jiwa bersemangat untuk mengetahui bahwa diri memiliki seseorang yang setia, tapi tidak diketahui bahwa dinding pemisah tetap berada diantaranya. Perasaan tidak membutuhkan orang lain, karena ada rasa memiliki sahabat terbaik, mempunyai dia yang bisa mengerti seluruh keluh dan kesah yang akan dilontarkan, dan membimbing diri untuk kembali kepada kesyukuran. Iya, semua karena ada rasa "nyaman". 

Tapi sayang, "kenyamanan ini melelahkan, sobat!!! Saat semua cerita harus berbalik, saat semua kebiasaan bersama menjadi hanya sebuah cerita masa lalu, saat diri mengerti bahwa melewati dinding pemisah adalah sebuah khayalan, saat tau bahwa rasa "nyaman" itu pergi dari diri kita berdua, menjauh untuk menjadikan kita insan yang kaku.

Kaki kita melangkah ke arah yang berbeda, tangan kita mengayuh pada dayungan yang berkebalikan, rasa "nyaman" kita berteriak untuk tidak didekati lagi. Pengakuan diri atas keinginan untuk menyampaikan bahwa diri ini tidak ingin lagi memupuk sebuah batang rapuh yang telah mati, perasaan apapun yang pernah ada di atas kata "nyaman" itu biarkan menjadi bingkai masa lalu yang harus ditinggalkan, tapi bukan untuk dilupakan...

Sekarang, langkah kaki kita semakin "nyaman" untuk menjauh, alunan hidup kita juga sudah sangat berbeda dan persahatan itu telah menjadi potret hidup masa lalu yang sedikit banyak telah membentuk diri ini menjadi aku yang sekarang....

Terima kasih, sobat... Diri ini hanya memohon untuk tidak mendekati dinding kokoh itu lagi, karena aku hanya ingin berlari sejauh mungkin dari khayalan palsu itu, aku ingin mengumpulkan energiku untuk menghancurkan dinding egoku, agar perasaan "nyaman" yang sebenarnya bisa aku dapatkan.

Aku yakin itu, pada hal yang terbaik dan pada hal yang tepat untukku dari Tuhanku, In Shaa Allah......



Dengan "kenyamanan" hati,

DEVI KEUMALA
Categories:

0 comments:

Post a Comment