
Membaca sebuah kutipan seorang penulis bernama Paulo Coelho dalam tulisannya yang berjudul "By The River Piedra I Sat Down and Wept" yang berbunyi "Waiting. That is the first lesson I learned about love" (Menunggu adalah pelajaran pertama yang saya pelajari tentang cinta), membuat saya ingin merangkai kata dan menjabarkan beberapa penjelasan tentang hal tersebut menurut penilaian saya sebagai seorang manusia.
Banyak hal yang dikaitkan dengan cinta,
seperti pengorbanan, tawa, bahkan sampai tangis kesedihan pun sering
dipasangkan dengan kata tersebut. Tapi menurut saya, kata menunggu paling tepat
untuk disatukan dengan kata cinta. Dalam Islam sendiri setiap insan manusia
menunggu keputusan dan takdir Allah tentang pertemuan terhadap cintanya, yaitu sesuatu
yang berhubungan dengan “jodoh” atau pertemuan dengan pelengkap setengah
agamanya.
Seperti lagu Afgan yang berjudul “Jodoh
pasti bertemu”, menyiratkan keyakinan bahwa penantian adalah tidak akan sia-sia
karena janji Allah yang terdapat dalam Q.S. Ar-Ruum (30):21 yang mempunyai arti
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan saysng. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yangberfikir”
adalah pasti adanya.
Dalam menunggu takdir Allah tentang jodoh,
kita diharuskan untuk terus belajar dan memperbaiki diri, karena pasti setiap
manusia ingin medapatkan yang terbaik, maka dari itu, hal pertama yang harus
dicapai adalah menjadi terbaik. Satu hal yang harus terus diingat dan
dimengerti bahwa yang terbaik bukan selalu sesuai dengan yang kita inginkan,
karena sesuatu yang kita inginkan belum tentu baik di hadapan Allah. Tetapi, In
shaa Allah saat manusia mencoba untuk menajadi lebih baik waktu menunggu
cintanya, maka Allah juga akan memberikan yang terbaik seperti tertulis dalam
Q.S. An-Nuur (24):26 yang mempunyai arti” wanita-wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang
keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan
laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula) ...
Ada cerita lain dalam menunggu cinta juga,
khususnya bagi kaum hawa yang telah berkomitmen untuk mengikuti proses yang
sesuai dengan syar’i dan tidak mengikuti budaya berpacaran, apalagi dalam masa
penantiannya mereka tetap melanjutkan pendidikannya sampai strata 2 (S2) bahkan
sampai strata 3 (S3). Keadaan ini banyak menghasilkan komentar dari teman,
saudara dan juga orang sekitar akan ketakutan lawan jenis untuk mendekati
karena jenjang pedidikan yang sangat tinggi, yang terkadang lebih tinggi darinya,
sehingga ada perasaan minder untuk melamar atau menjadikan wanita tersebut
sebagai pasangan hidup.
Saya yakin, seandainya laki-laki tersebut
berpendidikan baik dan berfikir positif serta memiliki pemahaman yang baik
terhadap agama akan mengerti dan tidak akan minder atau takut akan hal itu,
karena dia yakin Allah menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihannya
masing-masing untuk saling memahami dan untuk disyukuri. Menurut saya, untuk
membangun rumah tangga dan mendidik dan menghasilkan anak yang Subhanallah
diperlukan ilmu yang sangat banyak dan luas, maka dengan terus belajar dan
belajar secara formal atau non-formal bisa menjadi sarana untuk terus
mengumpulkan ilmu. Kembali lagi jika manusia itu yakin akan kebesaran Allah dan
yakin bahwa “janji Allah itu pasti”, maka tidak ada fikiran manusia yang
menutup keluasan kekuasaan-Nya.
Kembali lagi cinta dan menunggu adalah dua hal
yang sejalan, jangan takut, jangan gundah serahkan semuanya pada pangkuan-Nya,
mengadu pada-Nya, maka semua ketakutan itu akan hilang... Sekali lagi ingat dan
selalu resapi bahwa “janji Allah itu pasti”!!!!! Percaya bahwa Allah memiliki kata
“kun fayakun” (jadi, maka jadilah), maka kerisauan adalah tidak berarti dan
nihil. Allah menyuruh manusia untuk berusaha, berdo’a dan bertawakal atas
takdir dan semua yang telah ditetapkan-Nya. Maka berbahagialah wahai hamba
Tuhanmu :)







0 comments:
Post a Comment